[17/365] Martabak

Bila mendengar kata martabak? apa yang terlintas di dalam benak kita? jawabannya tergantung orang mana yang kita tanya tentunya :). Martabak sudah sangat lazim kita dengar, bahkan sebelum saya lahir mungkin sudah ada juga kata ini hehehehe. Bagi beberapa orang bila mendengar martabak maka yang dibayangkan adalah martabak manis, tidak salah memang karena di beberapa tempat memang menggunakan istilah tersebut bagi terang bulan. Terang bulan itu apa? terang bulan adalah sebutan martabak manis di daerah malang dan surabaya. Sedangkan di Malang jika kita menyebut martabak maka yang dimaksudkan adalah martabak asin atau martabak telor. Lain daerah lain pula istilahnya hehehee. Kali ini saya mau membahas masalah martabak asin, martabak telor yang akan disebut dengan martabak saja.

Martabak merupakan makanan yang sangat saya sukai, hampir seluruh anggota keluarga di rumah sangat suka dengan makanan ini. Makanan ini berisikan campuran daging (bisa ayam, sapi, kambing) dengan telor, bawang merah, bawang bombay yang dibungkus dengan kulit martabak yang terbuat dari tepung lalu digoreng. (untuk resepnya silahkan dicari sendiri ya). Pada waktu saya kecil ya sekitar masih TK-SMP kelas 1 banyak penjual martabak yang cara berjualannya berkeliling. Saya masih ingat gerobak mereka biasanya lumayan besar dan agak panjang. Gerobak tersebut rata-rata didorong oleh 2 orang. Penjual martabak ini punya namanya sendiri-sendiri di gerobaknya, kebetulan langganan saya dulu namanya martabak agung. ntah apakah martabak agung ini sama dengan martabak agung yang berada di depan pertokoan di kawasan alun-alun kota Malang. Dulu hampir setiap minggu saya membeli martabak.

Martabak Telor – Sumber gambar: http://www.deresep.com

 

Sekitaran tahun 1989 penjual martabak keliling sudah mulai pudar, jarang sekali ditemui, yang ramai adalah penjual nasi goreng dan bakmi keliling. Di malang biasanya kami memanggil abang-abang tersebut nasi goreng/mi duk duk karena mereka keliling sambil memukul kayu (semacam kentongan) sebagai penanda. Ketika saya masih bekerja di salah satu toko retail di Malang, bila mendapat shift pulang malam, saya hampir tidak pernah melewatkan membeli martabak di depan Gramedia BaSra Malang. Martabaknya cukup enak di lidah saya dan cocok banget rasa dan harganya. Sekarang Bapak penjual martabak sudah tidak ada lagi disitu bila malam, entah pindah kemana. Memang selera setiap orang memang berbeda-beda dalam berurusan dengan makanan, semenjak martabak basra tidak ada lagi, saya hanya mempunyai satu langganan di daerah pasar bunga. Namanya martabak bang ali, bagi beberapa orang martabak disitu kurang siip, tp bagi saya enak, lebih enak dibandingkan dengan martabak yang dijual hanya beberapa meter dari martabak bang ali. Selain bang ali sebenarnya ada juga sih yang lain tapi bila tidak terpaksa saya tidak beli disana. Ketika menulis postingan ini saya membayangkan ada abang-abang penjual martabak yang berjualan keliling lagi karena bila malam datang menyergap dan rasa lapar yang datang dengan tiba-tiba maka martabak adalah pilihan yang sulit ditolak 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s