[5/365] Menelurkan Buku

Beberapa tahun yang lalu pernah berbincang dengan seorang kawan sekerja mengenai mengisi waktu luang. Kebetulan kami berdua mempunyai kebiasaan yang sama, salah satunya adalah membaca buku. Buku apa saja dibaca tidak dibatasi oleh genre. Nah teman saya ini bercelutuk bila suka membaca dan menuangkan hasil dari apa yang dibaca menjadi percuma. Obrolan kamipun berlanjut mengapa penulis dari kalangan sodara-sodara katholik lebih aktif dibanding kristen. Banyak sekali jawaban yang muncul dari yang serius sampai yang bercanda, salah satunya adalah kalau rekan katholik kan tidak menikah sehingga untuk menulis suatu artikel dapat lebih fokus.

Dari obrolan tersebut, saya berpikir wah betul juga kenapa ya tidak menulis sebuah buku ya. Hal tersebut mengendap selama beberapa lama dalam hati dan pikiran kurang lebih 3-4 tahun. Sekitar 2008-2009, saya teringat akan proyek saya itu, mulailah saya mencari materi untuk bahan tulisan. Saya mencari materi dari internet, buku, maupun menulis rangkuman dari apa yang selama ini saya ketahui, pelajari dari pengalaman saya. Oh ya subyek buku yang akan saya tulis tidak jauh dari dunia kerja saya, yaitu dunia perpustakaan.

Saya mula-mula kebingungan mulai dari mana, saya coba searching, baca literatur, bertanya kepada yang sudah biasa menulis akhirnya saya bisa membuat suatu kerangka bukunya. Saya sudah mulai menulis draft untuk bab 1 yaitu pendahuluan. Permasalahan mulai timbul entah mengapa tiba-tiba semangat untuk meneruskan mulai luntur. Proyek menulis sebuah buku terbengkalai bertahun-tahun. Ketika beberapa hari yang lalu mencari sesuatu di rak buku saya tidak sengaja melihat beberapa buku literatur yang nantinya akan menjadi bibliografi dari buku saya, saya terhenyak dan bergumam, ah iya buku, kapan bisa meneruskan dan menyusun ulang.

Dari peristiwa kecil yang kebetulan itu membuat saya untuk berpikir ulang jika tidak diselesaikan akan menjadi tanggungan dan mungkin akan menjadi penyesalan di kemudian hari. Saat ini saya lagi mengumpulkan semangat dan membuat rasa malas dan kantuk bila malam menyerang untuk mulai mencicil dari awal. Draft tulisan saya yang lama tersimpan hdd di PC yang sudah lama tidak bernapas di ruang tamu sehingga mau tidak mau harus menyusun ulang mulai dari kerangka dan teman-temannya. Suatu proyek sebenarnya harus ada deadline untuk memacu namun bila ada deadline, bila deadline terlampaui akan merasa bermasalah dan tertekan. Menjadi dilema juga bagi saya, tp saya buat deadline aja paling lama satu tahun lagi harus jadi, karena sebenarnya bila dikebut menulis paling 2-3 bulan seharusnya sudah selesai ditulis. Begitu ya gaesss jangan malas dan menunda-nunda bila ada proyek sesuatu! Tetap semangat, ganbate!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s