[1/365] Komersialisasi Ospek

Kata ospek tentunya tidak asing di telinga kita. Ospek adalah masa-masa orientasi ketika seseorang hendak masuk sekolah, kuliah. Di beberapa tempat mungkin menggunakan istilah yang berbeda bukan ospek, mungkin MOS (masa orientasi sekolah), kalau di tempat saya bekerja menggunakan istilah MCF (Ma Chung Festival). Saya percaya bahwa kita semua pernah ambil bagian dalam ospek ini, ntah sebagai peserta maupun panitia. Bila mendengar kata ospek apa yang dipikirkan dalam benak kita semua? saya yakin bila mendengar kata ospek ingatan kita tentu menoleh ke belakang, melihat masa lalu. Kita mengikuti ospek dengan berbagai kegiatan yang entah berguna atau tidak, membawa barang/sesuatu yang sebenarnya relevan atau tidak dengan dunia sekolah,kuliah. Membuat, memakai, membawa berbagai atribut yang aneh-aneh. Belum lagi berbagai hukuman, teriakan dari kakak senior yang judes, pura-pura judes, jahat, pura-pura jahat, sampai yang sengaja jadi panitia agar dapat berkenalan dengan adik tingkat karena terlalu lama doi/doski menjomblo #ups.

Masa-masa ospek dilewati dengan rasa syukur, kesal, dendam, merasa tidak ada gunanya, buang-buang uang. Sampai saat ini saya terus terang gagal paham dengan ospek dengan perploncoannya. Saya tidak bisa mengambil manfaat positif dari itu semua. Manfaat yang saya dapatkan hingga detik ini adalah ada cerita yang dapat saya ceritakan kepada saudara, teman maupun menjadi cerita kenangan ketika berkumpul dengan kawan-kawan seperjuangan ketika mengikuti ospek tersebut. Saya ingat betul ketika ospek, saya harus memakai topi dari gayung yang ada gagangnya, dan di gagang gayung harus digantung sebuah cabai merah atau yang lain, saya harus membuat tas ospek dari kaus dalam/singlet, membuat bendera peserta piala dunia tahun 1990, membuat dan mengenakan kalung dari sayur yang diuntai. Hmm coba apa keuntungannya?

Ospek dengan model perploncoan pada saat ini sudah tidak begitu populer namun demikian membawa atribut yang aneh-aneh masih populer, setidaknya di beberapa sekolah, perguruan tinggi yang saya tahu dengan baik. Saya sangat tertarik dengan komik opini karya Aji Prasetyo mengenai ospek. Ketika dulu mengikuti ospek, saya merasakan dengan benar harus lari pontang panting kesana kemari, tidak tidur selama 48jam ! hanya untuk mengerjakan tugas, mencari atribut yang bagi saya tidak masuk akal. Saat ini, meskipun atribut dan peralatan ospek hampir sama namun jauh lebih bagi mahasiswa baru untuk mencari, membawa asal ada uang. Di luaran kampus sekarang ada banyak penjual atribut, dan segala keperluan ospek. Yang patut menjadi pertanyaan adalah bagaimana bisa, penjual bisa tahu dengan pasti atribut dan keperluan ospek tersebut. Apakah penjual itu bekerja sama dengan panitia? panitia merangkap jadi calo? atau bagaimana? Bagi yang tidak mau ribet bisa memanfaatkan media sosial. Biasanya harga dari barang-barang keperluan ospek dibandrol lebih mahal dari harga umumnya.

Pada saat ini ospek tidak hanya kegiatan orientasi pengenalan kampus semata, namun juga sebagai salah satu cara mereguk nikmatnya rupiah dengan mengorbankan mahasiswa terutama mahasiswa rantau yang bukan asli domisili di kota tersebut. Mahasiswa baru dijadikan komiditi yang menggiurkan setiap tahun untuk menambang rupiah.  Trus Ospek dibuat apa?

Maharu UB sedang mencari keperluan OSPEK
Maharu UB sedang mencari keperluan OSPEK
Beli via online
Beli via online

 

Patut disayangkan bila memang tujuan ospek melenceng dari tujuan semula dan memanfaatkan maharu. Terlepas maharu itu dari kalangan mampu atau tidak sejogjanya tidak patutlah melakukan hal tersebut. Tetapi itu semua kembali berpulang kepada masing-masing panitia, saya cuma bisa prihatin #ups itu kan jargon khas pak BY, maafken Bapak Presiden.

Apakah ini hanya berlaku di tingkat perguruan tinggi? saya merasakan tidak, dulu iya dulu jaman adik saya masih ES EM PE, ada sebuah toko di dekat sekolah dia yang menyediakan hampir keseluruhan kebutuhan siswa. Baik itu untuk MOS, tugas-tugas sekolah sehari-hari maupun yang lain. Dan ada beberapa barang yang hanya ada di toko tersebut, di tempat lain? tidak ada yang jual. Apakah panitia MOS dan guru juga terlibat? saya tidak tahu dengan pasti. Namun patut disayangkan juga bila hal tersebut memang terjadi.

QUO VADIS OSPEK?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s