Dies Natalis : Sense of Belonging, Promosi dan Menara Gading

Beberapa waktu yang lalu saya diajak seorang teman untuk menghadiri dies natalis sebuah perguruan tinggi di sebuah kota di Jawa Timur. Acara Dies Natalis yang dibalut dengan Wisuda dikemas dengan baik. Sambil melihat dan mengikuti prosesi acara wisuda, saya berpikir mengapa acara dies natalis harus digabungkan dengan acara wisuda? Apakah karena untuk hemat biaya? Hemat waktu? Hemat tenaga?

Dalam benak saya alangkah baiknya jika acara wisuda dan dies natalis dilaksanakan secara terpisah namun upacara wisuda atau sidang senat terbuka bisa dijadikan menjadi satu rangkaian acara dies natalis. Mengapa bisa begitu? Menurut pendapat saya, acara wisuda memang acara universitas serta dapat dihadiri oleh undangan, wisudawan, dosen, staf saja (singkat kata yang hadir adalah undangan terbatas). Mengenai wisuda saya tidak banyak memberikan komentar karena itu adalah menjadi suatu ciri dari universitas, rasanya kalau wisuda ya sama saja. Wisudawan maju ke pentas, foto-fiti, terus ramah tamah ntah makan besar atau hanya cukup nasi kotak atau kue.

Saya ingin membahas mengenai dies natalis. Dies natalis bagi saya dapat menjadi jembatan antara mahasiswa, staf, dosen, pimpinan universitas untuk memupuk rasa sense of belonging, sementara itu dies nataslis juga dapat dijadikan ajang promosi yang baik bagi universitas kepada masyarakat khususnya siswa SMA kelas 3. Saya melihat dies nataslis pada PT tersebut kurang melibatkan partisipasi dari dosen, staf secara keseluruhan dan mahasiswapun tidak terlibat (yang terlibat hanya anggota paduan suara, yang menurut saya mereka terlibat karena menyanyi untuk acara wisuda).

Seyogyanya acara dies natalis dapat melibatkan mahasiswa secara keseluruhan meskipun mungkin tidak semua dilibatkan menjadi panitia. Dalam dies natalis juga dapat direncanakan suatu acara yang membuat bahwa civitas academica tersebut merasa bangga dan loyal pada tempat dia berkarya, menempuh pendidikan ataupun ketika sudah lulus nanti. Model acara saya rasa bisa diatur dan dicari yang cocok.

Dies natalis sebagai ajang promosi adalah satu cara dalam lebih menajamkan citra universitas kepada khalayak yang sudah tahu, mengenalkan universitas kepada yang belum tahu, memberikan suatu rasa memiliki bagi yang berhubungan dengan universitas tersebut (misalnya keluarga mahasiswa, keluarga dosen, keluarga karyawan), menjadi ajang CSR bagi masyarakat sekitar universitas. Dies natalis sebenarnya bila dikemas dengan baik mungkin bisa jadi salah satu income generating bagi universitas yang bersangkutan.

Lha caranya gimana? Banyak cara yang ditempuh sebenarnya

  1. Dies Natalis sebagai sarana CSR

CSR bisa dilakukan dengan adanya jualan sembako murah, layanan kesehatan, memperbaiki sarana dan prasarana di lingkungan sebuah PT berada (misalnya perbaikan pos ronda, kelengkapan alat medis untuk posyandu, sumbangan buku bagi sekolah yang berada di sekitarnya, masih banyak macam lagi). Saya rasa untuk masalah seperti ini bisa didapat dengan menggandeng sponsor, donatur. Dengan adanya CSR bagi lingkungan setempat juga dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada mereka dan juga menumbuhkan rasa memiliki dan merasakan keuntungan dari berdirinya insitusi tersebut di daerah tersebut.

  1. Dies Natalis sebagai sarana promosi

Dies natalis sebagai ajang promosi dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat banyak dengan menggandeng sponsor, kegiatan dapat berupa jalah sehat, fun bike. Atau juga dapat membuat suatu acara kesenian seperti wayang kulit, ketoprak, atau yang lain. Intinya suatu kegiatan yang melibatkan massa. Atau bisa juga membuat sebuah bazar. Di tempat acara dapat dibuka stan promosi dari unit yang terkait.

  1. Dies Natalis sebagai sarana promosi untuk anak SMA/SMK dan atau sederajat

Sebuah universitas tentunya memerlukan mahasiswa sebagai salah satu penyokong nyawa agar universitas tersebut dapat tetap survive. Nah dalam rangka dies natalis dapat direncanakan suatu acara yang melibatkan siswa-siswa SMA tidak harus siswa kelas 3, apa contohnya? Contohnya dapat berupa lomba paduan suara, lomba blog, lomba membuat software, lomba apapun yang sifatnya dapat menarik siswa SMA untuk ikut berpartisipasi. Kegiatan yang dilakukan jangan dikungkung hanya yang bersifat akademis saja seperti olimpiade matematika, olimpiade akuntansi.

  1. Dies natalis sebagai sarana menumbuhkan sense of belonging

Dalam suatu rangkaian dies natalis dapat dilaksanakan dengan baik seperti jalan sehat bersama seperti yang disebut diatas dan diikuti oleh civitas academica beserta keluarganya saya rasa sedikit banyak dapat menumbuhkan rasa memiliki. Hal yang lain adalah bazar murah, jika melibatkan orang tua mahasiswa tentunya juga akan tumbuh juga rasa memiliki, bangga terhadap institusi. Pementasan sebuah seni, mungkin sejenis operet, paduan suara, unjuk kemampuan yang mengkolaborasi dosen, karyawan, mahasiswa yang dipentaskan dan dihadiri oleh banyak orang terutama sivitas dan keluarganya bisa juga salah satu cara.

  1. Dies natalis sebagai sarana income generating

Seperti yang saya tuliskan diatas, bila dibuat sebuah kegiatan yang berskala besar dan melibatkan banyak orang tentunya sponsor akan mudah didapat (meskipun tidak semudah membalik telapak tangan), paling tidak itu jauh lebih mudah jika acara yang dilaksanakan hanya intern. Misalnya lomba jalan sehat, bagi peserta yang ikut salah satu syarat untuk mengikuti adalah dengan menukarkan produk-produk sponsor senilai sekian rupiah maka akan mendapat satu tiket (ini adalah salah satu imbal balik, kita dapat sponsor, sponsor pun juga senang karena produk laku). Dapat duitnya darimana? Lha di tempat finish, bisa jualan aneka makanan, minuman ataupun dapat menggandengan pihak ketiga untuk berjualan yang tentunya bisa ditarik fee.

Jangan lupa setiap pelaksanaan dies natalis jangan selalu terpatok atau terkungkung harus di lokasi universitas/PT tersebut berdiri. Jika terpatok susah sekali apalagi bila lokasinya jauh dari keramaian dan jalur angkutan umum.

Bagi saya, sebuah dies natalis dapat menjadi apa saja tergantung bagaimana diolah dan diatur. Bila dies natalis hanya dihadiri oleh undangan terbatas, hanya (mungkin) mahasiswa berprestasi, dosen dan karyawan tanpa melibakan banyak orang di luar sana, maka dies natalis tersebut hanya menjadi menara gading yang tidak banyak manfaatnya. Buang-buang waktu, biaya, tenaga namun tidak mempunyai nilai guna bagi kemajuan sebuah institusi ya mubazir banget

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s