Dasar Logika

 a) Apa itu Logika?
Mendefinisikan logika bukanlah suatu yang mudah.
• Ilmu Logika bukanlah bagian dari psikologi yang menjelaskan apa yang dipikirkan manusia, ilmu logika juga tidak menjelaskan bagaimana seseorang bisa menarik kesimpulan tertentu.
• Ilmu logika mengajarkan, bagaimana cara yang seharusnya dipakai seseorang jika dia mau mengambil keputusan atau menarik kesimpulan tertentu.
• Ilmu Logika mempelajari metode dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk menyusun argumentasi yang benar serta membedakan pemikiran (atau penarikan kesimpulan) yang benar dari yang salah.
• Logika merupakan dasar dari semua jenis ilmu dan filsafat karena menyediakan metode atau aturan yang dapat digunakan dalam semua bidang.
• Hanya ada satu jenis logika. Logika yang sama berlaku untuk fisika, matematika, kimia, juga teologi dan filsafat. Ada orang yang mengatakan bahwa logika timur beda dengan logika barat, tetapi untuk menyatakan perbedaan tersebut mereka menyatakannya dengan logika yang sama (yang dianggap logika barat).
b) Kemutlakan logika bagi manusia
i. Tanpa logika manusia tidak dapat berkomunikasi.
• Bayangkan jika satu kata dapat berubah arti setiap saat atau,
• Jika sesuatu yang saat ini benar dapat menjadi tidak benar di saat yang lain (sekalipun kondisi, fakta dan isi dari pesan tetap sama), maka komunikasi akan kacau.
ii. Untuk menolak atau menentang logika, dibutuhkan logika. Seseorang yang menolak penggunaan logika dengan mengatakan bahwa ‘Logika bukanlah suatu yang mutlak’ atau ‘Logika adalah sesuatu yang salah’, maka orang tersebut telah menggunakan hukum logika untuk menolak logika. Kalimat tersebut jelas dimaksudkan memiliki arti kebenaran tertentu. Jika kalimatnya benar (‘Logika itu salah’), maka logika yang dipakainya berarti salah, dan kalimatnya juga salah. Tetapi jika kalimatnya salah (logika ternyata diperlukan), maka kalimatnya tetap salah.
c) Guna logika
Penggunaan logika sangat penting dalam berteologi maupun dalam kehidupan praktis, berikut ini ada beberapa manfaat pemakaian logika:
1. Untuk mengerti apa isi Firman Tuhan
2. Untuk memberikan penjelasan akan iman pengharapan yang ada pada kita.
3. Untuk memberikan atau menyusun bukti atas doktrin yang kita percayai
4. Untuk menjawab serangan atau argumentasi yang menyerang iman kita.
5. Untuk merenungkan dan mengaplikasikan implikasi logis dari Firman Tuhan dalam hidup kita
6. Untuk melindungi diri dari kesesatan
d) Syarat dalam penggunaan logika atau penalaran
1. Pemikiran harus berpangkal pada kenyataan atau kebenaran. Tanpa titik awal pemikiran yang pasti maka kesimpulan yang ditarik juga tidak akan pasti.
2. Harus mengakui adanya kebenaran yang absolut. Jika kebenaran adalah relatif, maka tidak akan ada yang bisa secara pasti disebut benar dan pada akhirnya tidak ada gunanya membicarakan ataupun memperdebatkan sesuatu.
3. Harus dapat membedakan 2 jenis kepastian : kepastian subyektif dan kepastian obyektif. Kepastian subyektif yang tergantung perasaan seseorang pada saat tertentu belumlah merupakan suatu bukti kebenaran, sedangkan kepastian obyektif adalah kepastian yang berpangkal pada kenyataan.
4. Alasan-alasan yang dikemukakan haruslah tepat dan kuat. Sekalipun titik awal pemikiran sudah pasti benar, belum tentu kesimpulan yang dicapai adalah benar jika alasan-alasan yang diajukan tidaklah tepat dan kuat. Contoh alasan yang tidak kuat: (1) Elia percaya kepada Allah, (2) Elia tidak mengalami kematian, (3) Saya percaya kepada Allah, jadi saya juga tidak akan mengalami kematian.
5. Proses penalaran atau pencapaian kesimpulan haruslah benar. Contoh proses penalaran yang salah : (1) Rusa adalah binatang, (2) Domba adalah binatang, (3) Jadi rusa adalah domba.
e) Pedoman umum dalam penggunaan logika
1. Kita harus berpikir sendiri, jangan hanya mengikuti atau menerima pemikiran orang lain begitu saja.
2. Berpikirlah secara obyektif, sebisa mungkin hindari subyektifitas.
3. Bersikap terbuka (open minded). Kita harus mau meninggalkan kesimpulan kita yang salah jika sudah mendapatkan alasan lain yang kuat untuk mengubahnya atau jika adanya informasi baru yang mengubah dasar pemikiran kita.
4. Bersikap kritis. Telitilah didalam menerima pernyataan apapun dari sumber lain, selidikilah dasar dan alasan yang ada. Yang lebih penting adalah senantiasalah bersikap kritis pada diri sendiri (introspeksi : selidiki diri sendiri).
5. Bersikap jujur pada diri sendiri dan orang lain. Hanya dengan demikian kita bisa belajar dari kesalahan kita.
Lakukan semua pemikiran secara teratur dan terencana. (Diambil dari diktat ilmu nalar yang disusun oleh Adhika Gunawan B.Sc. M.A.)

Advertisements

3 thoughts on “Dasar Logika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s