Ketika Kamu Menjadi Jawaban Doa

karamelfrapucino

ab74b40b8392f678dd95c577a62f1a03--future-quotes-teen-quotes Source: Pinterest

“Kamu adalah jawaban doaku…”

Apa yang kira-kira kamu rasakan dan pikirkan ketika seseorang mengatakan hal ini di depan matamu? Basi, klise, gombal, atau justru kamu merasakan joy yang nggak mudah kamu dapatkan?

Menjadi jawaban doa memang terdengar seperti bualan belaka atau sebuah kalimat klise yang biasanya kamu dengar dari pasangan kamu. Kebanyakan sih memang seperti itu. Tapi, beberapa hari yang lalu, saya benar-benar merasakan (kembali) apa artinya menjadi jawaban doa.

Awalnya, di hari itu memang saya harus ke ICE, BSD Tangerang, untuk menghadiri conference. Mumpung di BSD, entah kenapa saya ingin sekali menjenguk Oma dan keponakan yang memang tinggal di sana. Bertepatan juga saya ingin memberikan hadiah kecil pada kakak dan keponakan saya yang baru saja berulang tahun.

Long story short, saya datang membawa makanan kesukaan orang rumah. Namun, diluar dugaan ternyata Oma baru saja tertimpa musibah. Saya lihat Oma sedang bicara dengan salah satu anaknya yang juga…

View original post 623 more words

Advertisements

Merasa Salah Jurusan?

Sebenarnya saya udah lama pengin nulis perihal ini. Perihal salah jurusan. Jurusan apa yang salah? Jurusan ketika sekolah atau kuliah. Dan hal ini kembali mengungkap ketika beberapa bulan lalu membaca buku antologinya alumni Unpad yaitu Soleh Solihun dkk yang berjudul Tersesat Yang Nikmat. Salah jurusan sebenarnya tidak hanya berlaku bagi seseorang ketika memilih pada waktu akan kuliah saja, tetapi juga pas masa-masa SMA.

Selepas bangku sekolah di SMP dan naik ke tingkat yang lebih atas yaitu SMA maka seorang siswa sudah harus memilih jurusan yang akan dimasuki misalnya kelas IPA, Sosial atau Bahasa kalau dulu ada A1, A2, A3 dan A4. A1 jurusan Fisika, A2 Biologi, A3 Sosial dan A4 adalah bahasa. Ketidakmengertian, ketidaktahuan, ikut teman adalah salah satu faktor yang menentukan mengambil jurusan yang salah. Tidak mengerti nanti akan mau gimana, tidak tahu nanti saya mau kuliah dan kerja di bidang apa, teman-teman banyak yang ambil jurusan X, bila saya mengambil jurusan WYZ maka saya tidak punya teman, maklum teman-teman itu adalah teman grup, teman geng. Tahunya gimana kalau salah jurusan ketika SMA? Indikasi pertama Saya tidak tahu pada saat zaman sekarang ini tetapi dulu ketika zaman saya masih SMA maka seseorang masih diberi toleransi untuk pindah jurusan meskipun kegiatan sekolah sudah berlangsung. Pindah jurusan ini juga tidak asal pindah tapi juga ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Indikasi kedua adalah ketika seseorang akan kuliah tidak mengambil jurusan yang linear dengan jurusan yang diambil ketika SMA, misal pada saat SMA jurusan IPA eh kuliah kok ambil jurusan bahasa misalnya.

Bila tadi masa-masa SMA bagaimana dengan masa kuliah. Nah ini juga sama dengan yang diatas alasannya yaitu ikut teman, ndak tahu mau jadi apa, kerja apa, yang penting kuliah dulu, kuliah di jurusan tertentu karena terpaksa, bisa karena dipaksa orang tua, keadaan, lingkungan yang memaksa. Alasan ikut teman, ndak tahu, orang tua udah jelas rasanya, gamblang. Keadaan dan lingkungan yang memaksa sering terjadi, jadi gini seseorang kuliah sebagai syarat tertentu dari suatu perjanjian misal, tidak ada pilihan lain. Sebagai contoh saya dulu punya teman dan mendapatkan beasiswa, untuk mendapatkan beasiswa itu dia harus kuliah di PT x serta jurusan 1. Tidak boleh yang lain, dengan terpaksa ya kuliahlah disitu. Atau juga keadaan, tentunya dari beberapa diantara permbaca pernah mengikuti UMPTN atau SMPTN atau apapun istilahnya dengan berbagai macam pilihan mulai dari IPA, IPS, dan IPC. Jurusan yang dipilih nomor 1 adalah jurusan incaran, nomor 2 dan atau 3 biasanya sekedar jurusan yang  yah daripada tidak ditulis. Dan celakanya jurusan nomor 2 atau nomor 3 yang sering tidak diharapkan malah tembus, lolos ketrima. Di seleksi PTS pun terkadang ada juga yang menerapkan pilihan utama, kedua dan seterusnya. Tergantung ketentuan PTS masing-masing.

Nah bila sudah salah mengambil jurusan gimana? Apakah mundur? atau tetap maju? Duh kalau SMA masa harus tinggal kelas, kalau kuliah masa harus keluar atau kuliah satu tahun dulu terus pindah jurusan? Semuanya kembali ke tangan masing-masing. Bukan saya yang menentukan.

Cuma saya mau berbagi pengalaman, dulu dari SMP saya itu sudah pengin kalau SMA atau kuliah di jurusan bahasa atau pariwisata dan perhotelan. Tapi ketika lulus SMP, saya tidak tahu SMK jurusan perhotelan dan pariwisata di Malang (ini adalah bentuk ketidaktahuan) sehingga saya sekolah di SMA dan mengambil kelas IPA (ini juga keanehan, kan katanya mau kul di pariwisata atau hotel tp ada alasan yg dapat diajukan, kan anak IPA bs ambil jurusan Sosial dan Bahasa) ok lanjut saya lulus SMA dengan latar belakang IPA. 

Selepas SMA inilah banyak pilihan pelik yang harus dipilih

1. Saya dari SMP ntah kenapa suka dng SW CAD CAM semacam autocad

2. Saya juga pengin masuk teknik perkapalan

3. Saya pengin kerja di dunia broadcast utamanya multimedia

4. Pengin kuliah ambil jurusan THP gara-gara pas SMA mengambil ekskul biologi dan sering ngolah hasil pertanian plus teman yang lulusan THP

Dari semua pilihan itu akhirnya saya ikut UMPTN dengan pilihan 1 Teknik Sipil, pilihan 2 Teknologi Hasil Pangan dan dua-duanya tidak tembus. Ok no problem, setelah mempertimbangkan dengan masak akhirnya saya ambil dunia broadcast, nah muncul masalah disini. Saya menolak sebuah tawaran kuliah setara D2 di Surabaya pdhl itu beasiswa full lho, karena saya berpendapat bahwa itu kampus baru dan belum tahu reputasinya. 

Akhirnya pilihan saya ke kampus komputer di Malang setelah tanya ini itu, dan apakah benar nanti kalau kuliah disini bisa kerja di dunia televisi bagian ini itu. Ketika dinyatakan bisa dan bla bla ok, saya pun kuliah di sana. Setelah kuliah beberapa semester rasanya salah nih, bukan seperti ini kuliahnya, bukan yang ku maksudkan. Ingin rasanya berhenti dan keluar di tengah jalan tapi begitu banyak konsekuensi yang harus dilewati dan dijalankan. Tidak semudah itu untuk membalikkan badan keluar dari bangku kuliah. Akhir kata saya terus kuliah dan wisuda.

Ketika menginjakkan kaki di dunia kerja beberapa kali diterima dan bekerja tidak sesuai dengan latar belakang. Pada suatu ketika akhirnya ketrima di sebuah seminari bagian perpustakaan serta yang dikerjakan sesuai pendidikan dan kesukaan saya. Intinya kerjaan saya berhubungan dengan komputer dan jaringannya. Ntah mengapa di suatu waktu saya, Tuhan menempatkan saya bekerja yang tidak lagi berhubungan dengan komputer yaitu di perpustakaan.

Apakah dengan bekerja di perpustakaan, ilmu yang saya dapat hilang? Tidak! Ilmu yang saya dapat di bangku kuliah masih ada yang dapat digunaka, mata kuliah tertentu membantu saya berpikir, menyimpulkan masalah, menganalisis serta jalan keluarnya. Ketika kuliah dirasa salah jurusan yakin saja bahwa suatu saat ilmu yang didapat pasti berguna serta bila ada berkat lebih mungkin bisa kuliah lagi di jurusan yang benar.

Saya melihat begitu banyak rekan yang ketika mereka bekerja tidak sesuai jurusan. Saya melihat diri sendiri dan adik-adik saya. Ada yang lulusan arsitek, bahasa jepang, elektro tp mereka bekerja di bidang komputer, ada yg dulunya anak IPA sekadang berprofesi sebagai auditor. Ada juga rekan yang lain ada yg jadi broker rumah, serta masih banyak contoh lain.

Sebelum pos ini diakhiri cuma mau bilang mungkin iya benar salah jurusan tp semuanya kembali ke masing-masing orang, lanjut terus, tuntaskan atau ambil langkah mundur, mengulang agar sesuai dengan keinginan dan kebenaran masing-masing. Tidak ada yang salah, semuanya adalah keputusan hidup yang harus dipilih.

Asal Usul bukan Asal Usil

Terus terang bingung mau beri judul apa untuk postingan ini. Intinya adalah ketika seseorang menikah tentunya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi beberapa orang misalnya adalah usul atau etnis dari pasangannya. Dan ini sering kali menjadi batu sandungan terhadap beberapa pasangan yang akan menikah karena berbeda budaya, berbeda etnis atau suku. Saya mempunyai rekan beberapa diantaranya gagal melanjutkan sebuah hubungan akibat dari keberbedaan yang telah disinggung diatas.

Continue reading

Berkat Setahun

Eh tak dinyana ternyata sudah 6 bulan saya tidak menulis apa-apa di blog tercinta ini. Alasannya sih biasa seperti yang sudah-sudah itu yang biasa dijadikan kambing hitam yaitu ga ada waktu, malas hahahaha. Sebenarnya saya bingung mau nulis apaan terlebih judul yang pas pada kesempatan kali ini. Ya udah dah saya beri judul aja berkat setahun. Langsung cus aja deh

Dalam setahun terakhir ini, saya mendapatkan berkat yang banyak dari Tuhan yaitu saya masih diijinkan hidup, bernapas sampai tulisan ini diketik, orangtua yang masih lengkap, adik masih sehat. Disamping hal tersebut adalah saya diizinkan Tuhan untuk merenovasi rumah yang sudah saya beli. Bila ngomongin rumah ini sebenarnya agak keki, jengkel dan marah karena tukang bangunannya itu. Tapi kata saudara sepupu udah jangan dipikir nemen-nemen nggarai gelo saja. Sampai saat ini proses perbaikan rumah tetap berlangsung karena tukang bangunan yang bangunan dulu brengsek, tp daripada rumahnya jadi ga karuan akhirnya ya diperbaiki meskipun harus menguras tabungan termasuk tabungan cadangan.

Continue reading